1. Prolog

Lelaki itu bernama Bujang. 18 tahun, kulit coklat pekat, rambut tipis, dan badan tegak. Bujang telah lama tidak bersekolah, pendidikan terakhirnya adalah kuliah kehidupan jurusan perkebunan sawit. Dia adalah buruh kelapa sawit di rantau prapat, labuhan batu medan. Bujang tak pernah mengenal wanita, bagi dia wanita yang dia kenal hanyalah Amaknya dan Ci Mey Hong. Majikannya pemilik kebun kelapa sawit.

Bujang hidup berdua dengan Amak nya. Dulu pernah Amaknya punya dua orang anak Bujang dan Lemang. Lemang adalah kakak bujang, kini dia pergi dirantau layar, ke negri yang tak pernah diketahui kabarnya. Lemang adalah pekerja keras, dia senang melakukan apa saja tanpa ada yang membebaninya. Sejak kepergianya berlayar, lemang tak pernah pulang, dan tak pernah memberi kabar. Kini dia dianggap hilang. Entah sudah berapa lama sejak Ia meninggalkan tanah rampat itu.

Tapi ini bukan kisah tentang Lemang, ini kisah si Bujang. Suatu siang Bujang tidak pergi kekebun untuk memetik hasil panen. Dia hanya tidur-tiduran seharian, diatas bale-bale didepan rumahnya. Amak hanya diam melihat Bujang. Dia tak ingin mengusiknya. Amak ingin memberikan waktu untuk Bujang, agar ia menikmati lamunannya. Dua jam Bujang lamanya Bujang hanya berbaring di bale-bale. Matanya tidak terpejam, Badannya juga tidak menandakan dia dalam keadaan tidur. Dia masih terjaga. Dia menatap jauh keawan, menembus pepohonan rindang, menyusuri celah-celah cahaya, dan berakhir pada cakrawala langit yang biru.

Amak tetap membiarkannya dalam keheningan, Sedangkan Bujang sedang asyik dengan lamunannya. Amak juga tetap sibuk dengan tumbuk kopi yang sedang dikerjakannya. Waktu beranjak senja. Bujang terhenyak, rupanya waktu seharian yang telah dilewatinya tak terasa. Amak tersenyum akhirnya Bujang bangun. Dia tak berkata apa-apa. Ketika Bujang bangkit dan mengubah posisinya dari baring menjadi duduk. Amak menghampirinya.

"Pergilah mandi, waktu sudah senja. Daritadi kulihat kau hanya melamun saja seharian. Apa yang kau
pikirkan Bujang!!?"
"..." Bujang diam, dia hanya melihat ke arah Amaknya, dalam, dan kemudian dia memeluknya.
Pelukan itu erat, dan Amak membalasnya dengan tepukan ringan di punggung Bujang.
Amak tak tahu apa yang sedang dirasakan Bujang. Saat ini Amak sedang terharu.
Berada dalam dekapan anaknya yang telah dewasa.

Di suasana malam, saat makan malam. Ini pertama kalinya Bujang mengeluarkan suara setelah seharian.
"Mak.. Aku ingin pergi!" Perkataan Bujang mengejutkan hati Amak.
"Pergi kemana, Bujang!? Tega kau lihat Amak mu yang hidup sendiri menghadapi hari tua "
"..." Bujang diam
"14 tahun yang lalu Bapak mu pergi, tinggalkan Amak, 10 Tahun yang lalu Abangmu, sekarang kau!?
Apa salah Amak Bujang, kenapa Amak selalu ditinggalkan!?"
"..." Bujang diam
Amak terurai air mata.
"Bukan begitu Mak, Aku.. Aku hendak ingin mencari seseorang.."
"Seseorang!? Siapa? Abangmu!? Lemang"
"Bukan Mak, Bukan Abang, tapi Nirmala"
"Nirmala!? Nirmala saha!?"
Eh.. Amak tiba-tiba latah pakai basa sunda, kemudian dia langsung membenarkan ucapannya.
"Nirmala!? Siapa pula Nirmala!?"
"..." Bujang mengangkat bahunya, seakan-akan mengatakan bukan, aku tidak tahu siapa dia.
"Apa maksud kau!?"
"Aku tidak tahu Mak, Aku tidak tahu siapa dia, Aku hanya mencari seseorang yang sudah lama
tidak saya temui"
"Maksudmu? Kau pernah bertemu Nirmala?"
"Tidak Mak. Tidak sama sekali, Aku tidak tahu Mak, Selama ini aku hanya merasa hampa, bahkan aku juga tidak tahu apa dia itu betul-betul ada atau tidak"
"Wah.. sudah gila rupanya anakku ini"
"Terserah Amak.."
Bujang langsung beranjak dari kursi
"Pokoknya aku mungkin akan pergi esok hari mak, Aku akan mencari Nirmala" sambung Bujang
"Bujang.. Heh Bujang.. Mau kemana kau"
"Mau tidur Mak.."
"Tega kali kau.."
"Pokoknya aku akan pergi esok Mak.."
"Bukan.. bukan itu maksud Amak.."
"..." Bujang langsung menoleh
"Tega kali kau tinggalkan piring bekasmu berserakan. Sana kau cuci dulu itu piring. Main tinggal aja kau"
"..." Gubrak, Bujang gubrak
"Huh.." Amak langsung lewat depan Bujang dengan membuang muka.





ditulis dan pernah diposting di note FB
- muhammadtaqwiem
- kontrakan sadang serang, 16.37 WIB
- Bandung, 14 Des '10

0 comments:

Posting Komentar

Kalo sudah baca. Jangan Lupa tinggalin komentar yah!!